新闻是有分量的

CEK FAKTA:Penutupan lokalisasi di Indonesia

2016年3月8日下午1:49发布
2016年3月8日下午1:49更新

Pemprov DKI Jakarta membongkar ratusan bangunan di Kalijodo untuk dijadikan Ruang Terbuka Hijau(RTH)。

Pemprov DKI Jakarta membongkar ratusan bangunan di Kalijodo untuk dijadikan Ruang Terbuka Hijau(RTH)。

雅加达,印度尼西亚 - Setelah Gang Dolly di Surabaya dan Kalijodo di Jakarta,pemerintah akan menutup 99 lokalisasi lagi di seluruh Indonesia。

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam wawancara dengan Rappler mengatakan alasan penutupan。 “Ada eksploitasi seksual,ada kekerasan seksual,dan perdagangan orang。 Kami menolak itu,“kata Khofifah。



Menurutnya,maraknya perdagangan orang dipicu oleh prostitusi yang terjadi di titik-titik lokalisasi di Indonesia。

“Negara harus mengambil posisi melindungi warganya,jangan ada perdagangan orang yang terlembaga,”kata Khofifah。

Berdasarkan数据Kementerian Sosial,dari 168 tempat di Indonesia,kini tersisa 99 titik yang akan ditutup demi mencapai target Indonesia bebas lokalisasi pada 2019。

Direktur Rehabilitasi Tuna Sosial dan Perdagangan Kementerian Sosial Sonny Manalu menjelaskan bagaimana awal program Indonesia bebas lokalisasi 2019 ini bermula dan berapa jumlah pekerja seks yang akan terkena dampaknya。

Berikut penjelasannya:

Digagas oleh mantan Mensos Salim Al Jufri

Gagasan mengenai penggalakan penutupan lokalisasi berawal dari sebuah pertemuan yang digelar oleh Menteri Sosial terdahulu,Salim Segaf Al Jufri,di Surabaya pada Mei 2012. Pertemuan itu dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo。

Dari pertemuan itu,disepakati untuk meneguhkan kembali rencana penutupan lokalisasi di seluruh Indonesia。

Gang Dolly,lokalisasi terbesar di Asia Tenggara,terletak di Surabaya,dan pada akhirnya ditutup oleh Pemerintah Kota Surabaya pada 18 Juni 2014。

Menurut Kementerian Sosial,program penutupan lokalisasi tidak diusulkan secara pribadi oleh Menteri Sosial saat ini,Khofifah,tapi program terse but telah ada sejak Kementerian Sosial berdiri。

“Hanya gencar-gencarnya komitmen Kementerian Sosial menjadikan ini skala prioritas semenjak Kementerian Sosial Pak Salim Segaf Al Jufri dilanjutkan oleh Ibu Khofifah Indar Parawansa,”kata Sonny。

Diperpanjang hingga 2019

Awalnya,Khofifah ingin menutup semua lokalisasi pada 2017.Akan tetapi dengan berbagai macam pertimbangan,program penutupan lokalisasi diperpanjang hingga 2019。

Namun,Sonny mengakui bahwa Kementerian Sosial tak melakukan penelitian sebelum melakukan penutupan,melainkan pendataan kasat mata。

“数据itu kan ada di seluruh daerah,dinas sosial yang melakukan pendataan di wilayahnya masing-masing,”katanya。

Maka ditemukanlah sekitar 168 lokalisasi,terbanyak di Jawa Timur dan Kalimantan Timur。

数据Kemensos menyatakan,tak semua provinsi terdapat lokalisasi,seperti di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam。 Meski demikian,kementerian mencatat ada 1.625 pekerja seks di Aceh。

Rehabilitasi sosial bagi pekerja seks

Penutupan lokalisasi diklaim sebagai salah satu amanat yang diemban oleh Kementerian Sosial,karena salah satu tugas,pokok,dan fungsinya adalah melakukan rehabilitasi sosial pada pekerja seks。

“Mereka disingkat PMKS atau penyandang masalah kesejahteraan sosial。 Ada 27 PMKS,salah satunya adalah pekerja seks,“kata Sonny。

Dalam melakukan proses rehabilitasi,pekerja seks dari tempat penutupan lokalisasi akan ditempatkan di panti selama 6 bulan untuk diberi pelatihan keterampilan。

“Mereka kita gembleng ,kita berikan bimbingan motivasi perubahan perilaku,kemudian kita beri assesment di dalam panti itu,”ujarnya。

Setelah mahir,baru diberi modal untuk usaha dan diperbolehkan pulang ke daerah masing-masing。

Ada 60 ribu pekerja seks

Kementerian Sosial menganggarkan dana Rp 250 miliar untuk menutup sisa 99 lokalisasi,dengan rincian santunan Rp 5.050.000 untuk tiap pekerja seks。

Setidaknya ada sekitar 60 ribu lebih pekerja seks yang nanti akan dirumahkan usai penutupan。

总jumlah pekerja seks adalah 64.435。

Jumlah pekerja seks di Jawa Barat terbanyak yakni 21.261 jiwa yang tersebar di 13 lokalisasi,disusul Jawa Timur dengan 6.417 pekerja seks yang bekerja di 54 lokalisasi。

Umur pekerja seks antara 17-28 tahun。 “Usia 28-40 tahun mendominasi,sekitar 65 persen,”katanya。

Petugas Kementerian Sosial pernah menemukan pekerja seks di bawah umur 18 tahun di Papua,yakni 17 tahun。 Ia sudah bekerja di lokalisasi sejak umur 15 tahun。

Meski ditutup,praktik prostitusi tetap jalan

Tak semua penutupan lokalisasi dapat menghentikan praktik prostitusi。 Contohnya,meski telah resmi ditutup sejak Juni 2014 lalu,praktik prostitusi di Gang Dolly dan sekitarnya masih jamak beroperasi。

Bedanya,jika dulu eksekusi bisa langsung dilakukan di dalam rumah bordil,sekarang dilakukan di sejumlah penginapan di luar Gang Dolly。 Bahkan belum ada bukti bahwa penutupan lokalisasi menghentikan penyebaran病毒HIV / AIDS。 Baca selengkapnya sini

Penghuni lokalisasi kerap tak mendapat pendampingan。 Laporan Rappler pada pembongkaran lokalisasi Kalijodo mendapati bahwa warga Kalijodo sentirian menghadapi Pemerintah Provinsi DKI雅加达。

Sonny membenarkan bahwa tak ada pelimpahan pekerja seks dari Pemprov DKI雅加达。 Sehingga Kementerian tak bisa memberikan santunan dan pelatihan。 -Rappler.com

BACA JUGA: